RI News Portal. Jakarta – Film thriller aksi The Rip yang baru saja dirilis secara daring pada 16 Januari 2026 langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sinema. Disutradarai dan ditulis oleh Joe Carnahan—sutradara yang dikenal lewat karya-karya bergenre polisi keras seperti Narc dan Copshop—film ini menyatukan kembali Matt Damon dan Ben Affleck sebagai duo pemeran utama sekaligus produser melalui perusahaan Artists Equity mereka.
Cerita berpusat pada satu malam penuh ketegangan di Miami, ketika tim polisi narkotika menemukan gudang penyimpanan uang milik kartel narkoba yang nilainya mencapai puluhan juta dolar—jauh melebihi perkiraan awal. Apa yang semula hanya operasi rutin berubah menjadi ujian berat bagi loyalitas dan moralitas. Letnan Dane Dumars (Damon) dan Detektif JD Byrne (Affleck), dua sahabat karib yang sudah bertahun-tahun bekerja sama, mendapati diri mereka terjebak dalam ruang sempit bersama rekan-rekan tim: Mike Ro (Steven Yeun), Numa Baptiste (Teyana Taylor), dan Lolo Salazar (Catalina Sandino Moreno). Ancaman datang bukan hanya dari luar—dari kartel yang mengincar uang mereka—tetapi juga dari dalam, di mana rasa curiga mulai merayap di antara sesama polisi.
Carnahan membangun atmosfer tebal dengan gaya neo-noir klasik: pencahayaan redup, dialog tajam, dan ritme yang tak kenal lelah. Film ini terinspirasi dari pengalaman nyata seorang detektif Miami yang menceritakan operasi serupa, meski alur dramatisasinya dibuat lebih intens untuk kebutuhan sinematik. Tato di tangan karakter Damon yang bertuliskan “AWTGG” (Are We The Good Guys?) menjadi simbol kuat dari pertanyaan sentral: di dunia korupsi narkoba yang merajalela, apakah masih ada garis jelas antara penegak hukum dan pelaku kejahatan?

Berbeda dari banyak produksi streaming lain yang sering terasa ringan, The Rip menonjol karena pendekatan karakter yang lebih dalam. Damon tampil meyakinkan sebagai polisi veteran yang lelah namun teguh, sementara Affleck membawa nuansa sarkastis dan emosional yang sudah menjadi ciri khasnya dalam kolaborasi bersama Damon. Chemistry keduanya—yang terbentuk sejak Good Will Hunting—tetap menjadi daya tarik utama, bahkan di tengah adegan tembak-menembak dan kejar-kejaran mobil yang intens.
Pemeran pendukung juga memberikan kontribusi signifikan. Kyle Chandler sebagai agen federal, Steven Yeun dengan karakternya yang tenang namun mengancam, serta Teyana Taylor yang meski tampil singkat tetap meninggalkan kesan kuat, semuanya menambah lapisan ketegangan. Sinematografi Juan Miguel Azpiroz dan musik latar Clinton Shorter memperkuat rasa klaustrofobia dan urgensi sepanjang 133 menit durasi film.
Meski beberapa kritikus mencatat akhir cerita terasa sedikit memanjang dan ada subplot yang kurang dieksplorasi, mayoritas ulasan memuji The Rip sebagai hiburan aksi berkualitas tinggi yang jarang ditemui di platform daring akhir-akhir ini. Dengan rating R karena kekerasan dan bahasa kasar, film ini berhasil mengembalikan semangat thriller polisi era 90-an dan 2000-an—genre yang sempat dianggap usang, tapi terbukti masih punya daya tarik kuat ketika dieksekusi dengan baik.
The Rip bukan sekadar reuni dua aktor papan atas, melainkan pengingat bahwa dalam dunia penegakan hukum, godaan terbesar sering kali bukan dari musuh luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Film ini layak menjadi tontonan wajib bagi penggemar genre crime thriller yang haus akan ketegangan autentik dan pertanyaan moral yang menggantung.
Pewarta : Vie

