RI News Portal. Jakarta – Presiden Prabowo Subianto telah mengajukan nama Thomas Djiwandono sebagai salah satu calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan. Langkah ini menyusul pengunduran diri Juda Agung dari posisi tersebut per 13 Januari 2026, sebelum masa jabatannya berakhir pada 2027.
Thomas Djiwandono, yang akrab disapa Tommy, saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan. Pria kelahiran Jakarta, 7 Mei 1972, ini merupakan anak sulung dari pasangan Soedradjad Djiwandono—mantan Gubernur BI—dan Biantiningsih Miderawati, kakak kandung Presiden Prabowo Subianto. Latar belakang keluarga yang kuat di ranah ekonomi dan moneter ini kerap menjadi sorotan dalam diskusi publik terkait kapabilitasnya.
Pendidikan formal Tommy berlangsung di Amerika Serikat. Ia meraih gelar sarjana sejarah dari Haverford College, Pennsylvania, kemudian melanjutkan studi magister di bidang ekonomi internasional di Johns Hopkins University, Washington. Karier profesionalnya dimulai di dunia jurnalistik sebagai reporter Majalah Tempo pada 1993, sebelum beralih ke sektor keuangan sebagai analis di Wheelock NatWest Securities di Hong Kong.

Perjalanan kariernya kemudian meluas ke dunia bisnis swasta. Tommy memegang berbagai posisi strategis di sejumlah perusahaan, hingga menjabat sebagai CEO Arsari Group dari 2010 hingga 2024. Pengalaman ini membentuk pemahamannya yang mendalam tentang dinamika pasar dan pengelolaan korporasi.
Keterlibatannya di ranah politik semakin menguat ketika ia menjadi Bendahara Umum Partai Gerindra, partai yang dipimpin Presiden Prabowo. Tommy kemudian terpilih sebagai anggota legislatif, yang memperkuat posisinya dalam jaringan pemerintahan. Pada Juli 2024, ia dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan di era Presiden Joko Widodo, dan tugas tersebut dilanjutkan di Kabinet Merah Putih.
Para pengamat menilai kombinasi pengalaman fiskal di Kementerian Keuangan, jejak politik di partai berkuasa, serta latar akademik dan keluarga yang terkait erat dengan sejarah kebijakan moneter nasional menjadi modal utama Tommy. Pendukungnya menekankan bahwa profil ini selaras dengan kebutuhan BI untuk menjaga stabilitas moneter di tengah tantangan ekonomi global dan domestik.
Proses pengisian jabatan ini mengikuti prosedur hukum yang berlaku. Setelah pengunduran diri Juda Agung diterima, Gubernur BI merekomendasikan calon kepada Presiden, yang kemudian mengirimkan surat usulan resmi ke DPR. Thomas menjadi salah satu dari tiga nama yang diajukan, bersama dua pejabat senior BI lainnya.
Jika lolos uji kelayakan dan kepatutan di parlemen, Tommy berpotensi mengisi posisi yang ditinggalkan Juda Agung. Pengamat pasar mencatat bahwa transisi ini menarik perhatian karena implikasinya terhadap koordinasi kebijakan fiskal-moneter, meski pemerintah menegaskan tidak ada niat mengganggu independensi bank sentral.
Keputusan akhir DPR diharapkan menjadi penentu arah kepemimpinan BI ke depan, di tengah agenda pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Pewarta : Anjar Bramantyo

