RI News Portal. Semarang – Pada fase penutupan Operasi Lilin Candi 2025, yang dirancang untuk mengawal keamanan selama perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Kepolisian Daerah Jawa Tengah (Polda Jateng) memperkuat upaya pelayanan di berbagai titik wisata dan pusat aktivitas masyarakat. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk mencegah gangguan ketertiban, tetapi juga untuk membangun rasa percaya publik melalui pendekatan yang humanis dan preventif, mencerminkan evolusi strategi kepolisian dalam konteks pengelolaan massa di era pasca-pandemi.
Keterangan resmi dari Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, pada Jumat siang (2 Januari 2026), menegaskan bahwa operasi yang berlangsung selama dua minggu—mulai 19 Desember 2025—akan resmi berakhir pada pukul 24.00 WIB hari itu. Dalam pernyataannya, Artanto menekankan komitmen personel kepolisian untuk memberikan layanan optimal, terutama bagi masyarakat yang masih menikmati sisa liburan di wilayah Jawa Tengah. Pendekatan ini, katanya, mengintegrasikan elemen pengawasan dengan edukasi, sehingga kehadiran polisi dirasakan sebagai mitra masyarakat daripada sekadar pengawas.
Di lapangan, berbagai unit Polres di bawah naungan Polda Jateng telah menerapkan patroli intensif di destinasi wisata populer. Petugas tidak hanya memantau situasi secara real-time, tetapi juga terlibat langsung dalam mengatur alur pengunjung dan menyampaikan pesan keselamatan dengan cara yang persuasif. Hal ini mencerminkan shift paradigm dari pengamanan reaktif ke proaktif, di mana pencegahan menjadi prioritas utama untuk mengurangi risiko kecelakaan atau insiden.

Fokus khusus diberikan pada area wisata berbasis air, seperti waduk, danau, dan pantai, di mana Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) memainkan peran kunci. Di Pantai Kartini dan Pantai Tahunan, Kabupaten Jepara, misalnya, personel Satpolairud secara aktif memberikan arahan keselamatan, termasuk penggunaan peralatan pelindung dan kepatuhan terhadap zona aman. Langkah ini relevan mengingat potensi bahaya alam seperti arus kuat atau perubahan pasang surut, yang sering kali diabaikan oleh wisatawan di tengah euforia liburan.
Sementara itu, di kawasan pegunungan dan sumber air panas seperti Guci di Kabupaten Tegal, petugas menekankan edukasi tentang kewaspadaan terhadap fluktuasi cuaca dan ancaman bencana alam. Pengalaman banjir baru-baru ini di area tersebut menjadi dasar untuk imbauan preventif ini, menunjukkan bagaimana data historis dimanfaatkan untuk meningkatkan resiliensi komunitas. Pendekatan semacam ini tidak hanya melindungi individu, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan pariwisata lokal dengan meminimalkan dampak negatif dari aktivitas manusia terhadap lingkungan.
Baca juga : Respons Cepat Tim Penyelamat di Tengah Ancaman Banjir Berulang di Padang
Pengamanan tidak terbatas pada situs wisata alam; pusat keramaian urban seperti kawasan perbelanjaan dan pasar oleh-oleh juga menjadi prioritas. Di Jalan Pandanaran, Semarang, kolaborasi antara petugas lalu lintas dan Dinas Perhubungan menghasilkan pengaturan lalu lintas yang efisien, termasuk arahan parkir melalui sistem pengeras suara. Inisiatif ini bertujuan untuk mencegah kemacetan, yang sering kali menjadi pemicu frustrasi sosial selama periode liburan, dan sekaligus mempromosikan disiplin sipil sebagai bagian dari budaya keselamatan bersama.
Menurut Artanto, strategi keseluruhan operasi ini berpusat pada prinsip pelayanan dan keamanan, di mana polisi berperan sebagai pelindung sekaligus fasilitator. “Kami mengutamakan interaksi humanis, di mana petugas tidak hanya mengamankan, tapi juga mendidik dan membantu, sehingga masyarakat merasakan manfaat langsung dari kehadiran kami,” jelasnya. Sinergi dengan instansi terkait, tambahnya, akan terus dipertahankan hingga akhir operasi untuk menjamin kondusivitas secara holistik.
Dalam konteks lebih luas, Operasi Lilin Candi 2025 ini dapat dilihat sebagai model pengelolaan keamanan publik yang adaptif, terutama di tengah dinamika sosial pasca-liburan panjang. Artanto menutup dengan imbauan agar masyarakat taat pada petunjuk petugas, prioritas keselamatan pribadi, dan partisipasi aktif dalam menjaga ketertiban. Upaya ini, pada akhirnya, tidak hanya menjamin keberhasilan liburan Natal dan Tahun Baru, tetapi juga memperkuat ikatan antara institusi negara dan warga dalam membangun masyarakat yang aman dan harmonis.
Pewarta: Nandang Bramantyo

