RI News Portal. Wonogiri, 18 Desember 2025 – Di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam seperti tanah longsor dan erosi tanah di wilayah pegunungan Jawa Tengah, sebuah inisiatif kolaboratif dilaksanakan pada Kamis (18/12/2025) untuk merehabilitasi lahan kritis melalui penanaman pohon. Kegiatan ini melibatkan aparat keamanan setempat, pemerintah kecamatan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, serta warga masyarakat, menargetkan area rawan bencana di Kabupaten Wonogiri.
Lokasi utama penanaman berada di kawasan Gunung Kendil, Kecamatan Tirtomoyo, pada lahan milik institusi pengelola hutan negara. Sebanyak sekitar 500 bibit pohon ditanam, terdiri dari jenis beringin (Ficus benjamina), jambu, dan kayu putih. Pemilihan spesies ini tidak sembarangan; beringin, khususnya, dikenal memiliki sistem perakaran yang ekstensif dan kuat, mampu mengikat partikel tanah secara efektif sehingga mengurangi risiko erosi dan longsor.
Secara ilmiah, akar beringin dapat menembus lapisan tanah hingga kedalaman signifikan, membentuk jaringan yang stabil dan meningkatkan porositas tanah. Hal ini tidak hanya mencegah hilangnya lapisan atas tanah akibat hujan deras, tetapi juga membantu konservasi air tanah dengan meningkatkan infiltrasi dan mengurangi limpasan permukaan. Studi ekologis menunjukkan bahwa vegetasi dengan akar dalam seperti beringin efektif dalam mitigasi bencana hidrometeorologi di daerah berlereng, di mana curah hujan tinggi sering memicu gerakan massa tanah.

Pada hari yang sama, kegiatan serupa berlangsung di Telaga Blunyah, Kecamatan Giritontro, dengan penanaman 150 bibit beringin di kawasan pelindungan setempat. Inisiatif ini dipimpin oleh aparat keamanan tingkat distrik bersama pemerintah setempat dan warga, menekankan pendekatan bottom-up dalam pengelolaan lingkungan.
Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan paradigma baru dalam pencegahan bencana di Indonesia, di mana integrasi antara institusi formal dan masyarakat sipil menjadi kunci. Dengan melibatkan generasi muda melalui organisasi mahasiswa dan kepemudaan, kegiatan semacam ini juga berfungsi sebagai edukasi ekologis jangka panjang, mendorong kesadaran kolektif terhadap kerentanan lingkungan di wilayah karst dan pegunungan seperti Wonogiri.
Upaya rehabilitasi lahan kritis melalui penanaman pohon berakar dalam tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa stabilisasi tanah, tetapi juga kontribusi terhadap keseimbangan ekosistem secara keseluruhan, termasuk peningkatan biodiversitas dan regulasi iklim mikro. Di tengah perubahan iklim yang memperburuk intensitas hujan, inisiatif seperti ini menjadi model replicable untuk daerah rawan bencana lainnya di tanah air.
Pewarta: Nandang Bramantyo

