RI News Portal. Gunungkidul, 7 Desember 2025 – Di tengah riuhnya Car Free Day pagi ini, kompleks Alun-alun Pemda Gunungkidul mendadak ramai oleh antrean warga yang ingin mencukur rambut. Bukan salon biasa, melainkan stan bakti sosial bertuliskan “Paguyuban Semar Gundul – Cukur Seikhlasnya untuk Aceh”.
Puluhan tukang cukur sukarelawan yang merupakan anggota Paguyuban Semar Gundul bergerak cepat melayani warga, mulai dari anak kecil, remaja, hingga lansia. Hasil cukurnya beragam: ada yang botak plontos, fade modern, hingga potongan rapi ala pegawai negeri. Yang pasti, setiap orang yang selesai dicukur tersenyum lebar sambil memasukkan uang seikhlasnya ke dalam kotak donasi transparan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa kepedulian itu bisa dikemas dengan cara yang ringan dan menyenangkan,” ujar Slamet Prayitno, Ketua Paguyuban Semar Gundul, sembari menyeka keringat di dahinya usai melayani antrean. “Orang datang untuk CFD, sekalian cukur rambut, sekalian berbagi. Tiga manfaat dalam satu kegiatan.”

Seluruh dana yang terkumpul rencananya akan disalurkan melalui Lazismu Gunungkidul untuk membantu korban banjir bandang yang melanda sejumlah kabupaten di Aceh sejak akhir November lalu. Hingga berita ini diturunkan, panitia belum merilis jumlah pasti donasi, namun kotak-kotak donasi terlihat terus terisi sepanjang pagi.
Salah seorang donatur, Rudi (34), warga Wonosari, mengaku sengaja datang lebih pagi agar bisa ikut serta. “Biasanya CFD cuma olahraga sama beli jajanan. Hari ini beda, habis lari pagi langsung botak sekalian nyumbang. Kepala dingin, hati juga adem,” candanya sambil mengelus kepala gundulnya yang masih baru.
Paguyuban Semar Gundul sendiri bukan nama baru di Gunungkidul. Komunitas yang mayoritas beranggotakan tukang cukur tradisional ini kerap menggelar aksi sosial dengan cara-cara tak biasa, mulai dari cukur massal gratis untuk anak yatim hingga pengobatan alternatif tradisional. Kali ini, momentum CFD dan keprihatinan atas bencana di Aceh menjadi alasan mereka turun ke jalan.
“Kami berharap aksi kecil ini bisa memantik semangat gotong royong yang lebih luas,” tambah Slamet. “Bencana di mana pun adalah bencana kita bersama. Kalau setiap komunitas bergerak dengan caranya masing-masing, InsyaAllah beban saudara-saudara kita di Aceh akan jauh lebih ringan.”
Hingga pukul 10.00 WIB, antrean masih mengular. Beberapa pengunjung CFD yang awalnya hanya berniat lewat akhirnya ikut mencukur setelah melihat keramaian. Sebuah pengeras suara kecil terus mengumandangkan informasi tujuan donasi, diselingi lagu-lagu daerah yang membuat suasana semakin hangat.
Paguyuban Semar Gundul berencana mengumumkan total donasi dan menyerahkannya secara resmi kepada Lazismu dalam waktu dekat, disertai laporan pertanggungjawaban yang dapat diakses publik.
Pewarta: Lee Anno

